Jumat, 12 Maret 2010

4 DIMENSI USAHAWAN DALAM MENANGGAPI PERUBAHAN

. Jumat, 12 Maret 2010
0 comments


4 DIMENSI USAHAWAN DALAM MENANGGAPI PERUBAHAN

Menurut catatan saya, sedikitnya ada 4 jenis dimensi ruang di mana para usahawan harus mampu berkiprah. Pada 4 dimensi ruang itu pula , para usahawan membekali diri dengan 4 jurus dasar sebagai solusi untuk bertahan dalam kehidupan yang sewaktu-waktu bisa berubah.

Hal ini sebenarnya tidak melulu tentang sepak terjang para pengusaha atau pebisnis, melainkan juga mencakup semua kelompok sosial yang bermental proaktif, tangguh, tanggap serta trengginas terhadap setiap perubahan yang mungkin terjadi. Empat dimensi itu adalah sebagaimana diuraikan di bawah ini.

(1)
Pada keadaan pasar (ekonomi) normal, solusinya adalah nilai tambah
atas hal-hal teknis.

Apabila keadaan sedang tidak menunjukkan ketidakstabilan, tidak juga ada gonjang-ganjing dalam masalah politik, ekonomi, sosial atau lainnya, maka solusi untuk tetap eksis di blantika kehidupan berbisnis, biasanya dilakukan dengan meningkatkan nilai tambah atas hal-hal teknis pada produk, baik barang mau pun jasa. Sebab apa?

Sebab dalam dimensi ruang seperti ini, yang memegang peranan utama adalah memang hal-hal yang menyangkut kualitas produk, teknologi, ketersediaan bahan baku, ketersediaan SDM dan lain sebagainya.

Sampai kepada tingkat persaingan yang intensitasnya masih termasuk normal, para usahawan harus berkonsentrasi pada masalah bagaimana membuat nilai tambah yang memungkinkan produk mereka menjadi lebih unggul terhadap para pesaingnya.

(2)
Pada keadaan pasar yang ambur-adul, solusinya adalah pergeseran citra.

Ketika tingkat persaingan sudah meninggi sedemikian rupa hingga menciptakan kondisi tidak sehat, maka pasar berubah menjadi apa yang oleh Chan Kim dan Renee Mauborgne disebut sebagai “Lautan Merah” yang berdarah-darah. Di sini semua orang menderita, pasar yang buruk mengakibatkan usaha keras dan biaya besar hanya memberikan sangat sedikit hasil yang tidak sepadan dengan ongkos yang dikeluarkan.

Solusinya adalah dengan melakukan pergeseran citra atas produk, antara lain dengan merubah definisi usaha, kemasan serta kategori produk, jangkauan segmen pasar, serta berbagai keunggulan kompetitif yng sangat spesifik. Dengan jalan ini, sang usahawan bisa menciptakan sebuah pasar baru yang bebas dari persaingan tak sehat. Dengan kata lain ia telah menciptakan “Samudera Biru” yang aman sentosa (Kim dan Renee: “Blue Ocean Strategy”).

Cara lainnya adalah dengan mengeksplorasi berbagai ceruk pasar yang baru atau “niche markets”, yaitu celah pasar yang belum tergarap di tengah-tengah pasar yang sudah ada.

(3)
Pada situasi krisis yang parah di suatu lokasi, solusinya adalah pergeseran geografis.

Adakalanya, sebagai akibat kebijakan pemerintah yang kurang adil, langkanya sumber-sumber daya ekonomi, atau faktor-faktor force majeur seperti huru-hara, bencana atau bahkan perang, suatu kawasan berubah menjadi daerah krisis yang “tak layak bisnis”.

Untuk mengatasi hal itu, para usahawan dan juga berbagai fihak yang memiliki nalar dan daya juang, umumnya akan mengambil jalan keluar dengan melakukan pergeseran atau perpindahan geografis. Termasuk dalam hal ini fenomena “pengusaha perantauan” yang merantau dari daerah asal mereka ke daerah lainnya, urbanisasi penduduk dari pedesaan ke perkotaan, dan juga pengungsian dari satu negeri ke negeri lainnya. Bukti empiris memperlihatkan contoh, bahwa pengungsi Vietnam yang menghebohkan beberapa waktu lalu, sebagian besar merupakan kaum pengusaha di negeri asalnya.

Dengan analogi yang sama, sejarah memunculkan fenomena sejenis pada peristiwa eksodusnya kaum Yahudi yang kemudian mendirikan negara Israel, hijrahnya Nabi Muhammad dari Mekkah ke Madinah serta hijrahnya para pejuang RI dari Yogyakarta pada tahun 1949.

(4)
Pada krisis global, solusinya adalah: “Fasten your belt!”, benarkah?

Krisis global tentunya mencengkeram hampir seluruh kawasan di dunia. Oleh sebab itu krisis ini tidak tepat untuk diatasi dengan jurus-jurus seperti disebutkan di atas. Satu-satunya jalan keluar yang selama ini dianjurkan oleh pakar ekonomi dan dianut oleh masyarakat di hampir semua negara adalah dengan jalan “fasten your belt” alias “kencangkan ikat pinggang Anda”.

Maka tidak heran kalau kita lihat pada masa krisis seperti sekarang, semua orang berusaha menghemat, pengeluaran benar-benar diawasi dan dikendalikan, tidak ada yang mau memulai transaksi jika tidak betul-betul bisa dipertanggungjawabkan.

Namun, jarang yang menyadari bahwa dengan bersikap demikian ketat, sebenarnya kita telah mengundang krisis yang lebih hebat lagi. Para pengusaha cerdas dan para ekonom yang arif mengkhawatirkan bahwa justru dengan sikap menahan diri yang berlebihan, perputaran roda perekonomian akan semakin berat. Dan sikap seperti itu pula yang akan menyebabkan masa krisis akan menjadi semakin panjang dan lama.

Sangat mengesankan apa yang dilakukan oleh Konosuke Matsushita pada era krisis tahun 1929, di mana ia dengan keyakinan penuh justru lebih meningkatkan pengeluaran dan transaksi-transaksi bisnisnya. Ia melatarbelakangi aksinya itu dengan kata-kata: “Jika semua orang menahan uangnya dan tidak bertransaksi, maka kehidupan ekonomi akan mati..”

Nah, sejalan dengan apa yang dilontarkan oleh Pak Matsushita, ijinkan saya menghimbau agar marilah kita hadapi dan atasi krisis global ini secara bersama dan serentak, dengan jalan tetap bertransaksi secara wajar. Harapannya adalah agar dalam waktu tidak terlalu lama lagi badai akan berlalu, dan kehidupan akan kembali membahagiakan kita semua. Amin.

sumber:
Rusman Hakim
Pengamat Kewirausahaan
Gacerindo Entrepreneurial Leadership Center
E-mail: rusman@gacerindo.com
Portal: http://www.gacerindo.com/
Blog: http://rusmanhakim.blogspot.com/
Web: http://www.pempekpatrol.com/
Mobile: 0816.144.2792



Read More »»

BISNIS ITU PERMAINAN, BUKAN ILMU PENGETAHUAN

.
0 comments

Selama kita merasa belum familiar dan takut memulai bisnis, biasanya yang timbul di pikiran kita adalah: “belajar!”. Pilihannya mungkin dengan jalan mengambil program S2 dan jadi seorang MBA, atau ikut sebanyak-banyaknya seminar dan pelatihan, atau bisa juga dengan berguru dan mengabdi pada seorang begawan bisnis.

Kira-kira, sudah selaraskah alur pemikiran yang sedemikian dengan apa yang terjadi pada kenyataannya? Mari kita telaah.

Kebanyakan dari kita berbisnis karena ingin sukses, lalu menjadi kaya raya. Kita membayangkan, betapa enak dan hebatnya bila kita dapat sesukses dan sekaya Bill Gates atau Donald Trump. Menurut pandangan masyarakat pada umumnya, mereka itulah orang-orang sukses yang sebenar-benarnya. Merekalah sosok-sosok pebisnis yang prestasinya membuat banyak orang terobsesi.

Maka tidak heran jika para pakar pun berusaha menyadap dan mempelajari segala hal yang ada pada orang-orang sukses itu, dengan harapan dapat mentransfer nilai-nilai kesuksesannya kepada orang-orang lain yang juga ingin menjadi figur sukses. Mereka berpendapat bahwa: “Leaders are made, not born”.

Selanjutnya, segala sepak terjang yang dilakukan oleh para pebisnis tersebut, dikumpulkan, dipilah-pilah, lalu dianalisis. Dari analisis itu dibuat teori-teori. Hasilnya, muncullah berbagai teori kesuksesan yang terkemas dalam materi-materi “ilmu bisnis”, wacana profesionalisme, ilmu kepemimpinan (leadership), dan lain sebagainya.

Orang-orang awam memang ingin sekali menemukan cara-cara yang bisa membantu mereka untuk secara cepat mencapai kesuksesan. Semacam rel kereta yang tinggal diikuti saja akan mengantar orang tiba di gerbang kejayaan.

Namun demikian, apa benar kalau kita ingin menjadi figur sukses -- lebih spesifiknya pebisnis sukses -- harus menempuh perjalanan yang sarat dengan teori-teori kesuksesan seperti itu?

Dari berbagai catatan yang ada, tampaknya tidak demikian. Banyak sepak-terjang yang dilakukan oleh para pemimpin bisnis dunia tidak mencerminkan bahwa kesuksesan mereka disebabkan pembelajaran yang sungguh-sungguh dalam ilmu bisnis, profesionalisme dan teori kepemimpinan. Tidak juga pengetahuan ekonomi, teori-teori tentang kebebasan finansial, ilmu marketing dan lain sebagainya. Pun, tidak karena mereka rajin mengikuti seminar kesuksesan atau lokakarya tentang strategi bisnis.

Di lain pihak, banyak pemimpin bisnis ternyata merupakan orang-orang yang justru tidak suka belajar, malas sekolah, dan hanya ingin bermain-main saja. Boro-boro ikut seminar atau lokakarya. Lho kok bisa?

Ada beberapa contoh kasus. Yang pertama, Thomas Alva Edison. Nama ini sudah kita tahu sejak di bangku SD bukan? Namun, tentunya kita kenal Edison lebih sebagai tokoh ilmu pengetahuan, karena sekolah memfokuskan ajaran hanya pada penemuan atas lampu pijar dan berbagai temuan teknis lain yang dilakukannya.

Maka jarang kita memperhatikan bahwa sesungguhnya Thomas Alva Edison adalah juga seorang pengusaha besar yang sukses. Ia adalah pemilik dan pendiri berbagai perusahaan dengan nama-nama seperti Lansden Co. (mobil/otomotif), Battery Supplies Co. (baterai), Edison Manufacturing Co. (baterai dsb), Edison Portland Cement Co. (semen dan beton), North Jersey Paint Co. (cat), Edison General Electric Co. (alat listrik dll), dan banyak lainnya. Salah satu yang masih berjaya sampai sekarang adalah General Electric.

Apakah untuk mencapai itu semua Edison harus bersusah-payah mengikuti berbagai sekolah dan pendidikan tinggi? Atau mengikuti seminar kelas dunia yang diselenggarakan oleh para pakar kesuksesan, pakar bisnis atau pakar financial freedom? Ternyata tidak. Figur Edison adalah figur pemalas yang hanya tahan 3 minggu bersekolah. Ia lebih suka bermain-main dengan perkakas, dengan kawat dan dengan listrik. Itu kesenangannya dan dengan itu ia sukses.

Contoh lain adalah Kenji Eno. Ia juga tidak suka sekolah. Ia cuma suka bermain-main dengan permainan, istimewanya dengan video games. Kelas 2 SMA berhenti sekolah terus nganggur. Lalu dapat kerja di perusahaan perangkat lunak, sampai akhirnya ia berhasil mendirikan perusahaan perangkat lunaknya sendiri yang dinamakan WARP. Dalam tempo beberapa tahun saja Kenji Eno mampu membawa perusahaannya menjadi perusahaan video games terhebat di dunia yang diakui oleh tokoh-tokoh industri.

Fenomena-fenomena yang dibuat oleh orang-orang semacam Edison dan Kenji Eno ini memberi kesan kepada kita semua bahwa bisnis itu sebenarnya lebih dekat kepada sebuah permainan, dan terlalu jauh untuk diperlakukan sebagai sebuah ilmu pengetahuan.

Gede Prama yang dikenal sebagai pakar manajemen (bahkan dijuluki Stephen Covey Indonesia), mengomentari fenomena Kenji Eno sebagai kesuksesan dari kebebasan berfikir yang mampu melompat, karena belum terkena polusi-polusi yang dibuat sekolah.

Menurut saya, adalah keliru mempelajari fenomena pemimpin, untuk menciptakan pemimpin. Demikian juga, keliru mempelajari fenomena pebisnis sukses, untuk mencetak pebisnis sukses. Sebab, fenomena pemimpin (atau pebisnis) adalah fenomena manusia, yang tidak sama dengan fenomena alam. Kalau Isaac Newton mempelajari peristiwa jatuhnya buah apel ke tanah (fenomena alam) dan kemudian menemukan hukum gavitasi, maka itu oke-oke saja. Karena fenomena alam tidak berubah, hukum gravitasi pun akan tetap abadi.

Akan tetapi, mempelajari fenomena manusia pasti akan menimbulkan frustrasi. Sebab, manusia merupakan mesin perubahan, sehingga tidak akan ada fenomena manusia yang tinggal tetap abadi sepanjang masa, berlawanan dengan yang kita lihat pada peristiwa jatuhnya buah apel.
Pemimpin, dalam bidang apa pun termasuk bisnis, adalah sosok manusia yang bebas, yang bertindak semaunya tanpa memperhatikan teori mau pun kaidah, sehingga nyaris percuma kalau kita ingin mempelajari dan mengikuti jejak sepak terjangnya.

Coba lihat, pada saat terjadinya resesi ekonomi dunia tahun 1929, semua orang berdasarkan teori-teori yang ada, berusaha untuk berlaku sehemat mungkin. Tapi sebaliknya, Matsushita si raja elektrik dari Jepang malah royal mengeluarkan uang. Seakan uang itu tidak lebih dari mainan saja layaknya. Meski pun bukan tanpa alasan dia berlaku demikian.

Lihat juga Kim Woo Chong, pendiri imperium Daewoo. Ketika semua pengusaha (juga dengan teori-teori yang ada) berkonsentrasi memasuki pasar negara-negara kaya semacam Amerika dan Eropa, ia malah dengan santainya masuk ke pasar-pasar “keras” seperti Iran, Sudan dan Rusia serta negara-negara blok timur.

“Kesia-siaan” mempelajari dan berusaha mengikuti sepak terjang para pemimpin bisnis bisa dirasakan secara langsung di lapangan. Saat pertama kali Harvard Business Review mempublikasikan konsep pemasaran yang beken dengan “Marketing Mix” 4P (product, price, place dan promotion), nyaris semua pengusaha serta pakar bisnis menganut konsep ini secara fanatik. Begitu juga dengan perguruan-perguruan tinggi dan sekolah manajemen.

Tapi, tidak terlalu lama, sebagai akibat “ulah” para pemimpin bisnis yang gemar bermain-main, perubahan tren perekonomian dan industri memaksa para pakar dan pembelajar merubah lagi konsepnya dengan 6P, 8P bahkan yang terakhir disebutkan sebagai 12P.

Terus bagaimana? Kalau kita harus bersiaga setiap saat untuk belajar dan tidak ketinggalan zaman dengan ilmu marketing, kapan kita berbisnis?

Saya rasa kita semua banyak yang terjebak dan hanyut dalam “arus ilmu pengetahuan” yang dibuat oleh mereka yang “pakar ilmu pengetahuan”, sehingga kita tidak sempat lagi berinovasi yang justru merupakan kunci sukses bisnis. Kita malah terus menerus “dipaksa” mengejar ketinggalan ilmu pengetahuan tanpa tahu di mana ujung pangkalnya.

Pertanyaannya: ”Sebenarnya kita mau jadi pebisnis atau mau jadi ilmuwan sih?”

Saya sendiri yakin bahwa bisnis dan kesuksesan itu adalah semacam permainan saja. Seperti apa yang dikatakan oleh William Cohen dalam tulisannya “The Art Of The Leader” : “Success is acquired by playing hard, not by working hard..”.

Mengacu pada obsesi banyak orang tentang Bill Gates dan Donald Trump sebagaimana disebut di atas, perlu diketahui bahwa kedua orang tokoh ini pun mencapai sukses dari kesenangannya bermain-main.

Bill Gates sejak masih berusia 13 tahun sudah bermain-main dengan perangkat lunak komputer, dan dengan itu ia menjadi salah satu orang terkaya di dunia. Donald Trump juga sejak kecil selalu bermain-main ke kantor ayahnya, Fred Trump. Dia suka sekali melihat-lihat maket gedung dan pencakar langit, sebelum tertarik dengan bidang bisnis sang ayah, yaitu properti. Dan jadilah Donald Trump seorang Raja Properti.

Terakhir yang ingin saya sampaikan adalah, orang yang mempelajari ilmu kepemimpinan tidak akan menjadi pemimpin. Tapi, orang yang mencoba menjadi pemimpin, akan menjadi pemimpin. Demikian juga, orang yang mempelajari ilmu bisnis, tidak akan menjadi pebisnis. Tapi, orang yang mencoba menjadi pebisnis, akan menjadi pebisnis.


sumber:
Rusman Hakim
Pengamat Kewirausahaan
E-mail: rusman@gacerindo.com
Web: http://www.gacerindo.com
Blog: http://rusmanhakim.blogspot.com
Mobile: +62 21 816.144.2792


Read More »»

Selasa, 09 Maret 2010

Hacking Facebook Dengan Login Palsu

. Selasa, 09 Maret 2010
0 comments

hacking facebook dengan login palsu [fakelogin]

Siapa sih yang tidak kenal Facebook di zaman yang serba internet ini ? Yap, Facebook adalah situs sosial, seperti friendster juga... (Males ngomong nih, tanya ma mbah google aja yah..)
Ya udah, sebelumnya saya posting tentang cara login palsu di friendster, kali ini saya posting tentang cara membuat login palsu di facebook.

Yuuk langsung ke pembahasan...

1. Silahkan anda daftar di http://www.700megs.commengapa saya suruh anda daftar disana ?
di web hosting sana sangat gratis dan support php juga dari pada di ripway.com
bila tidak bisa terdaftar langsung saja masuk di :
http://www.700megs.com/register.jsp

2. setelah anda berhasil mendaftar di 700megs.com masuk ke FILE MANAGER...hapus file index.html.(akan ada di Cpanel masing2 nantinya)

3. oke, kita mulai praktek kita.
yang dibutuhkan adalah file index.php dan write.php sebagai inti fakelogin
silahkan download scriptnya dahulu disini atau di
http://www.ziddu.com/download/5023245/scriptFakeloginFacebook.rar.html

ukuran cuma 9kb.

4. setelah anda download. Disana ada dua file sebut saja index dan write
kedua-duanya silahkan anda upload di 700megs.com yang tadi anda sudah daftar.

5. lalu tes terlebih dahulu index.php yg telah kalian upload dan login dari situ,
klo berhasil.. akan ada file baru ;Password.txt [bertujuan sebagai tempat dimana userID dan password yang akan tertampung di facebook fakelogin kamu]

6, alright! selesai sampai di sini. . .

untuk penyebarannya silahkan dengan cara masing2...

disini saya cm kasih contoh satu untuk pengambilan secara paksa account2 facebook mania..
buka file index di www.700megs.com kalian..ambil URL nya.. [penting]

terus untuk pengguna firefox: buka tools>option>main

preview:


disni fungsinya kita mengarahkan agar browser waktu pertama kali dibuka langsung mengarah ke file kita tadi. memungkinkan hasil buruan kalian lebih banyak nantinya.
boleh di sebar ke komputer temen/di warnet2 kesayangan.

atau..

bisa juga menyebarkan dengan cara seperti ini




kamu buat account baru,di yahoo,gmail,ato sejenisnya

dengan nick Facebook@ or something like that.

diatas cm contoh...silahkan kamu buat seni sendiri
enjoy..

mudahkan ??

semoga berhasil . . .


Read More »»

Senin, 08 Maret 2010

Tentang Kewirausahaan

. Senin, 08 Maret 2010
0 comments

Wirausaha adalah seseorang pembuat keputusan yang membantu terbentuknya system ekonomi perusahaaan yang bebas. Karir kewirausahaan dapat mendukung kesejahteraan masyarakat, menghasilkan imbalan financial yang nyata.
Wirausaha di berbagai industry membantu perekonomian dengan menyediakan pekerjaan dan memproduksi barang dan jasa bagi konsumen dalam negeri maupun di luar negeri.
Meskipun perusahaan raksasa menarik perhatian banyak publik akan tetapi bisnis kecil dan kegiatan kewirauasahaannya setidaknya memberikan andil nyata bagi kehidupan sosial dan perekonomian dunia.



IMBALAN DALAM WIRAUSAHA


Tiap orang tertarik kepada kewirausahaan kerena berbagai imbalan yang dapat dikelompokkan dalam tiga kategori dasar : Laba, Kebebasan, dan kepuasan dalam menjalani hidup.



A. Imbalan Berupa Laba

Wirausaha mengharapkan hasil yang tidak hanya mengganti kerugian waktu dan uang yang diinvestasikan tetapi juga memberikan imbalan yang pantas bagi resiko dan inisiatif yang mereka ambil dalam mengoperasikan bisnis mereka sendiri. Dengan demikian imbalan berupa laba merupakan motofasi yang kuat bagi wirausaha tertentu.

Laba adalah salah satu cara dalam mempertahankan nilai perusahaan. Beberapa wirausaha mungkin mengambil laba bagi dirinya sendiri atau membagikan laba tersebut, tetapi kebanyakan wirausaha puas dengan laba yang pantas.

B. Imbalan Berupa Kebebasan

Kebebasan untuk menjalankan perusahaannya merupakan imbalan lain bagi seorang wirausaha. Hasil survey dalam bisnis berskala kecil tahun 1991 menunjukkan bahwa 38% dari orang-orang yang meninggalkan pekerjaan nya di perusahaan lain karena mereka ingin menjadi bos atas perusahaan sendiri. Beberapa wirasuaha menggunakan kebebasannya untuk menyusun kehidupan dan perilaku kerja pribadnya secara fleksibel. Kenyataannya banyak wirausaha tidak mengutamakan fleksibiltas disatu sisi saja. Akan tetapi wirausaha menghargai kebebasan dalam karir kewirausahaan, seperti mengerjakan urusan mereka dengan cara sendiri, memungut laba sendiri dan mengatur jadwal sendiri.

C. Imbalan Berupa Kepuasan Dalam Menjalani Hidup

Wirausaha sering menyatakan kepuasan yang mereka dapatkan dalam menjalankan bisnisnya sendiri. Pekerjaan yang mereka lakukan memberikan kenikmatan yang berasal dari kebebasan dan kenikmatan ini merefleksikan pemenuhan kerja pribadi pemilik pada barang dan jasa perusahaan. Banyak perusahaan yang dikelolah oleh wirausaha tumbuh menjadai besar akan tetapi ada juga yang relative tetap berskala kecil.



TANTANGAN BERWIRAUSAHA


Meskipun imbalan dalam berwirasuaha menggiurkan, tapi ada juga biaya yang berhubungan dengan kepemilikan bisnis tersebut. Memulai dan mengoperasikan bisnis sendiri membutuhkan kerja keras, menyita banyak waktu dan membutuhkan kekuatan emosi. Kemungkinan gagal dalam bisnis adalah ancaman yang selalu ada bagi wirausaha, tidak ada jaminan kesuksesan. Wirausaha harus menerima berbagai resiko berhubungan dengan kegagalan bisnis. Tantangan berupa kerja keras, tekanan emosional, dan risiko meminta tingkat komitmen dan pengorbanan jika kita mengharapkan mendapatkan imbalan.



KARAKTERISITK WIRAUSAHA


Sikap dan Perilaku sangat dipengaruhi oleh sifat dan watak yang dimiliki oleh seseorang. Sifat dan watak yang baik, berorientasi pada kemajuan dan positif merupakan sifat dan watak yang dibutuhkan oleh seorang wirausahawan agar wirausahawan tersebut dapat maju/sukses. Gooffrey G. Meredith (1996; 5-6) mengemungkakan ciri-ciri dan watak kewirausahaan seperti berikut :



Pendapat lain M. Scarborough dan Thomas W. Zimmerer (1993; 6-7 ) mengemungkakan delapan karakteristik yang meliputi :
  1. Memiliki rasa tanggung jawab atas usaha-usaha yang dilakukannya.
  2. Lebih memilih risiko yang moderat.
  3. Percaya akan kemampuan dirinya untuk berhasil
  4. Selalu menghendaki umpan balik yang segera
  5. Berorientasi ke masa depan, perspektif, dan berwawasan jauh ke depan
  6. Memiliki semangat kerja dan kerja keras untuk mewujudkan keinginannya demi masa depan yang lebih baik .
  7. Memiliki ketrampilan dalam mengorganisasikan sumber daya untuk menciptakan nilai tambah
  8. Selalu menilai prestasi dengan uang.

Wirausaha selalu komitmen dalam melakukan tugasnya sampai berhasil. Ia tidak setengah-setengah dalam melakukan pekerjaannya. Ia berani mengambil resiko terhadap pekerjaannya karena sudah diperhitungkan artinya risiko yang di ambil tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu rendah. Keberanian menghadapi risiko yang didukung oleh komitmen yang kuat, mendorong wirausaha untuk terus berjuang mencari peluang sampai ada hasil. Hasil-hasil ini harus nyata/jelas dan objektif dan merupakan umpan balik bagi kelancaran kegiatannya. Dengan semangat optimis yang tingggi karena ada hasil yang diperoleh, maka uang selalu dikelolah secara proaktif dan dipandang sebagai sumber daya.

Dalam mencapai keberhasilannya, seorang wirausaha memiliki ciri-ciri tertentu pula. Dalam Enterpreneurship and Small Enterprise Development Report (1986) yang dikutip oleh M. Scarborough dan Thomas W. immerer 1993;5) dikemungkinan beberapa karakteristik kewirausahaan yang berhasil,

Diantaranya memiliki ciri-ciri :
  1. Proaktif, yaitu berinisiatif dan tegas
  2. Berorientasi pada prestasi, yang tercermin dalam padangan dan bertindak terhadap peluang, orientasi efisiensi, mengutamakan kualitas pekerjaan, berencana, dan mengutamakan monitoring
  3. Komitmen kepada orang lain, misalnya dalam mengadakan kontrak dan hubungan bisnis.



Berpikir Kreatif dalam Kewirausahaan


Menurut Zimmererr (1996) untuk mengembangkan ketramplan berfikir, seseorang menggunakan otak sebelah kanan. Sedangkan untuk belajar mengembangkan ketrampilan berpikir digunakan otak sebelah kiri, ciri-cirinya :
  • Selalu bertanya : Apa ada cara yang lebih baik?
  • Selalu menantang kebiasaan, tradisi dan kebiasaan rutin
  • Mencoba untuk melihat masalah dari perspektif yang berbeda
  • Menyadari kemungkinan banyak jawaban ketimbang satu jawaban yang benar
  • Melihat kegagalan dan kesalahan sebagai jalan untuk mencapai sukses
  • Mengkorelasikan ide-ide yang masih samar terhadap masalah untuk menghasilkan pemecahan inovasi
  • Memiliki ketrampilan helicopter yaitu kemampuan untuk bangkit di atas kebiasaan rutin dan melihat permasalahan dari perspektif yang lebih luas kemudian memfokuskannnya pada kebutuhan untuk berubah.

Ditulis oleh Benny Susanti, SE, MM & Sri Hermawati, SE., MM.


Read More »»
 

Iklan Kecik